Tampilkan postingan dengan label Jurnalistik. Tampilkan semua postingan
Bagai telur di Ujung Tanduk
By : secawan kopi tubruk
Bagai telur
di Ujung Tanduk*
Oleh: Citra Nuraini
Ketiadaan
jaminan hidup bagi para penggiatnya, ditambah sulitnya regenerasi membuat
samrah makin hilang eksistensinya.
“Fi
bayarin arkodeon saya lima juta,” ucap ali sabeni.
“yah
cing, saya sudah punya. Buat apa punya dua. Emang untuk apa cing?” ucap seorang
wanita.
“buat
berobat,” balas sabeni.
Ali
sabeni berniat menjual satu-satunya arkodeon miliknya, alat musik yang biasa
menemaninya mencari nafkah, kepada fifi muntaco. Sabeni butuh uang buat
berobat. Dia menderita sakit jantung.
Mengharap
punya uang banyak dari samrah? Tidak mungkin. Jangankan memiliki tabungan,
untuk biaya hidup saja sudah susah. Harga sekali tampil samrah Cuma sekitar 3
sampai 4 juta. Uang tersebut dibagi 10 orang, tiap orang mendapat 300-400 ribu.
Dari
uang yang didapat, masih harus dipotong untuk transportasi dan makan. Terlebih
panggilan untuk pentastidka menentu, kadnag sebulan hanya beberapa kali tampil
atau malah sama sekali tak ada.
Makanya
untuk menambal kebutuhan hidup, semasa muda Ali Sabeni juga bekerja sebagai
tukang las. “kalau Samrah dijadikan buat penghasilan hidup, tidka cukup,” ujar
laki-laki beranak tujuh ini.
Malangnya,
kini sabeni telah berusia 77 tahun. Ia sudah lemah untuk bekerja, panggilan
untuk pentas pun jarang didapat. “sekarang belum tampil-tampil, sudah tua tidak
ada yang menyentuh (memperhatikan-red),” ujar sabeni.
Padahal
keinginan berkesenian sabeni tidak perlu diragukan. Baginya music tidak ada
istilah tua muda. Jika masih sanggup, dia akan terus bermusik. Istrinya,
sutinah malah sering jengkel melihat kondisi sabeni. “saya sakit hati, saya
bilang sini pak alat musiknya dijual. Tidak ada yang memperhatikan. Biar hilang
saja samrah, habis,” geramnya.
Walau
tak serupa, tapi nasip susahnya jadi seniman juga dirasakan fifi muntaco.
Perempuan berumur 44 tahun ini satu-satunya anak firman muntaco yang mau
meneruskan samrah.
“waktu
itu, tahu-tahu udah berkumpul kakek-kakek dirumah. Kata bapak itu pemain samrah,
kemudian jadi group,” kenang fifi. Pada 12 januari 1992, firman meninggal.
Tampuk kepemimpinan sanggar dipimpin fifi hingga kini, yang sebelumnya diberi
nasihat untuk membesarkan samrah. “Bapak berpesan setelah tampil di acara salam
canda di TVRI bulan Oktober 1991,” tambahnya.
Sialnya,
usaha untuk mempertahankan samrah malah ditentang zaman. Samrah yang didominasi
lagu melayu jadi kurang popular buat masyarakat kini. “Pernah ada yang bilang
tarifnya jangan mahal-mahal karena lagunya tidka dikenal. Makanya, kami juga
fleksibel bisa lagu dangdut atau pop,”tambah fifi.
Lagu
pengiring orkes samrah berupa lagu-lagu melayu tahun 50-an hingga 60-an. Cirri
tempo lagu masa itu cenderung lebih lambat. “kaya lagu Jembata pate, tidak enak
dinyanyikan. Orang pada ngantuk mendengarnya,” tutur fifi. Alat musinya pun
sulit dimainkan, arata-arata bernada minor, yang menghasilkan irama lambat.
Demii
mempertahankan hidup, kini para penggiat samrah harus putar otak. Sanggar fifi
sendiri akhirnya menyediakan pertunjukan lain seperti hadroh (kesenian rebana),
palang pintu (tradisi penyembutan calon pengantin dalam adat pernikahan
betawi), tanjidor, organ tunggal. Pembuatan ondel-ondel dan makanan betawi pun
dikerjakannya.
“kerja
saya serabutan. Semua saya kerjakan, yang penting bisa dapat uang. Akhirnya
berbagai hal kita layani agar dapat terus hidup,” ujar permepuan kelahiran
tahun 67 ini.
Sebagaimana
layaknya mempertahankan kesenian tradisional, samrah juga menghadapi masalah
regenerasi. Sabeni pernah mengajak warga untuk turut melestarikan samrah, ”saya
suruh anak-anak muda dating, belajar sama saya.”
Ajakan
Sabeni tak digubris, harapannya meredup. Hingga kini, group pimpinannya
mayoritas beranggotakan anak dan cucunya. Anaknya, zulbachtiar memainkan
gendang, Zulfah jadi penyanyi orkes, dan NurulFadilah terkadang menggantikan
Sabeni memainkan arkodeon. Cucunya, Abdul hair memetik gitar, fiffa septian
memainkan tamborin.
Sisanya,
tiga orang pemusik di luar keluarganya. Kesulitan regenerasi dirasakan betul
oleh sabeni buat mencari penari. Penari yang dulu menarikan tari samrah di
group sabeni, kini telah menikah, dan belum ada penggantinya.
“memang
hamper rata-rata polanya kekeluargaan. Karena memang mereka kesulitan
mensosialisasikan ini kepada masyarakat sekitar jadi tentunya keluarganya dulu
yang diperkenalkan,”ujar Rudi haryanto.
Fifi
lebih giat mencari regenerasi. “bareng teman-teman, saya cari anak-anak muda
yang suka music,” cerita fifi. Bahkan, dalam perekrutan, dia mensyaratkan
minimal orang yang mau bergabung bisa memegang dua jeis alat music.
“Merekrutnya dari temen, guru music, keluarga, ada juga anggota yang bawa
orang,” paparnya.
Ada
juga orkes Samrah pimpinan Widya. Awalnya group samrah yang anggotanya
didominasi pemuda memang berniat mempertahankan samrah. Namun belakangan
sanggar pelangi turut menampilakn kesenian betawi lain seperti gambang kromong.
Alasannya sama, kesulitan financial. “kalau tidak ada kerjaan, saya ngamen.
Jadi seniman budaya itu miskin,” tutur malih, anggota snaggar pelangi.
Samrah
kian surut. Padahal eksistensi samrah, tonggak kehidupan para pengiatnya dan
demi mempertahankan budaya local. Namun, melebarkan sayap diluar samrah, justru
melunturkan eksistensi samrah. “kalau ada jaminan dari pemda, senimandaerah
bisa totalitas di music,” ujar malih.
Tujangan
material sempat diberikan pemerintah kepada sanggar-sanggar. “Pada zaman rudi
saleh (ketua LKBtahun 1980-red) ada 50.000 tiap bulan. Sekarang sudah tidak
ada, ungkap Ali. Sedangkan menurut fifi, tunjangan yang diberikan berupa dana
akhir tahun. Dia mendapat 250.000 dari LKB.
Seketaris
Divisi Kajian dan Pengembangan Dinas Pariwisata DKI Endrarti fariani
membenarkan ada tunjangan kepada sanggar-sangar sejak tahun 1970. Namun, sejak
2004 dana hibah diberhentikan dengan alasan tidak efektif. Akhirnya dana
pengembangan kebudayaan hanya diberikan pada wadah yang menampunya, seperti
LKB.
Selain
bantuan dana. Ada harapan untuk memproduksi lagu-kagu samrah dalam jumlah
besar. ”kelemahannya samrah itu, musiknya sedikit, rekamannya sedikit. Pernah
LKB merekam tapi terbatas.,” keluh fifi.
Sosialisasi
juga diperlukan guna lebih mempopulerkan samrah seperti pada 1980-an. Kala itu
Samrah cukup bergensi. Pelatihan-pelatihan juga amat diperlukan mengingat
lagu-lagu smarah adalah lagu-lagu lama. “karena dipelajarinya juga agak susah,”
jelas fifi.
Mengingat
samrah bagai telur di ujung tanduk, pemeirntah perlu secepatnya bergerak
menyelamatkan marah sebagai usaha pelestarian budaya local. Dan tentunya
ketegasan para penggiatnya, untuk tak mendua dan fokus kepada samrah.
*diterbitkan dalam rubrik seni budaya majalah Didaktika edisi 41
Tag :
Jurnalistik,
Dari Tanah Abang Terus Bermetamorfosis
By : secawan kopi tubruk
Dari Tanah Abang Terus Bermetamorfosis*
Oleh:
Citra Nuraini
Ketiadaan
pakem dan tuntutan zaman memaksa samrah terus mengubah bentuknya.
Sabtu
siang, pukul 12.00, gerimis membasahi Jalan Manunggal XVII. Disebuah rumah
berukuran 15x4 meter, bernomer 35, bercat putih, seorang laki-laki membaringkan
badannya di karpen merah kemang-kemang. Suara orang mengaji terdengar dari
saluran radio khusus orang Betawi, radio Rodja. Seorang wanita menghampiri
laki-laki tersebut dan membangunkannya, “Pak-pak, ada tamu.”
Laki-laki
itu bangkit, tersenyum dan mengenakan peci hitam. Menutupi rambut hitamnya.
Sarung kotak-kotak melengkapi baju koko panjang merah muda yang sedikit
acak-acakan ditubuhnya. Laki-laki ini bernama Ali Sabeni. Laki-laki kelahiran tahun
1934 ini merupakan pemain samrah tertua yang masih hidup.
“Tahun
’60-an, saya sedang giat-giatnya bermain musik. Terus saya bertemu keluarga
bekas pemain samrah tahun ’20-an, orang tua generasi kedua. Katanya bikin ini
musik namanya samrah. Ini musik asli Tanah Abang. Nah itu awalnya samrah,”
ungkap Sabeni.
Samrah
dilahirkan di Tanah Abang pada abad 18 awal. Kala itu, Tanah Abang meruakan
pusat perdagangan para pendatang dari Cina, melayu, India, Arab, Pakistan, dan
Malaya. Di Tanah Abang, para pendatang tak cuma berdagang. Mereka menetap dan
berbaur dengan masyarakat pribumi. Embrio membentuk kelompok musik muncul
ketika anak muda Betawi beserta tetangganya dari Arab, Melayu, dan India
berkumpul dan bermusyawarah.
Kelompok
musik ini mereka namakan samrah. Nama samrah diambil dari bahasa arab
‘samarokh’ yang berarti berkumpul atau pesta dan santai. Kata ‘samarokh’
diucapkan oleh orang Betawi menjadi ‘sambrah’ atau yang lebih dikenal ‘samrah’.
Dengan
niat membentuk kelompok musik, mulailah mereka membawa alat musik dari
negaranya masing-masing. Orang Betawi
membawa gendang calte, malaka, dan tamborin. Lalu, orang Arab membawa ols,
orang Melayu membawa fiur atau biola, dan orang India membawa harmonium.
Mereka
menyajikan lagu-lagu yang sifatnya berbalas pantun. Pengaruh melayu yang kuat
kala itu membuat lagu pengiringnya menggunkaan lagu melayu. Seperti Lagu Anak
Ikan, Anak raja Turun Beradu, dan sebagainya.
Agar
lebih menarik, orkes ini turut menghadirkan penari. Tari samrah bisa dilakukan
berpasangan atau perorangan. Gerakannya mirip tari melayu yang mengandalkan
langkah kaki dengan lenggang yang berirama, posisi membungkuk, dan jongkok.
Bedanya,
tari samrah punya gerakan salawi, yaitu jongkok hampir seperti duduk bersila.
Salawi lebih dari sekedar membugkuk, sehingga membutuhkan keterampilan sendiri.
Biasanya penari samrah turun berjoget dengan diiringi orkes samrah dan nyanyian
seorang biduan. Iramanya pun bisa lembut dan cepat.
Kedua
kesenian ini sering dipentaskan pada pernikahan Betawi yang mengenal tradisi
malam mangkat dan maulid. Di malam itulah para undangan berkumpul untuk
mendengarkan pembacaan maulid Al-barjanzi. Setelah itu, mereka mementaskan
music dan tari dilanjutkan dengan cerita.
Kala
itu, cerita dibacakan oleh penonton atau tamu undangan. Sebagai hiburan dan
hobi saja. Jadi sifatnya spontan. Makanya, petunjukan dapat dilakukan diatas
panggung maupun tanpa panggung, yakni hanya dengan pentas berbentuk arena
sesuai dengan keadaan tempat.
Pun
dengan kostum, di betawi, orang biasa dating menggunakan jas, kain plakat, dan
peci saat menghadiri pernikahan. Pakaian itu yang kemudian menjadi seragam
utama.
Tak
cukup bermusik dan menari para pemainnya juga turut membuat tonil samrah demi
menyempurnakan kesenian Samrah. Tonil ini merupakan pengembangan dari teater
bangswan yang disebut Durmuluk. Durmuluk berasal dari melayu riau dengan cerita
shibulhikayat dan komedia stambul.
Lengkaplah
kesenian samrah berisi musik, tari, dan tonil. Orkesnya ideal beranggotakan 10
orang, 8 pemain musik dan 2 penyanyi. Sedangkan tari samrah dan tonil samrah
tidak mempunyai pakem.
Walaupun
demikian, samrah hanya berisi lelaki. Pengaruh islam yang kuat pada masyarakat
betawi tengah membuat permeuan dianggap haram berkumpul dengan lelaki, terlebih
berkesenian.
Dari
Tanah Abang, Samrah terus berkembang ke daerah Betawi tengah lainnya. Cikini,
Paseban, Tanah Tinggi, Kemayoran, Sawah Besar, dan Petojo. Uniknya, orkes
Samrah mampu berdiri sendiri, sedangkan tari Samrah dan Tonil samrah tidak bisa
ditampilkan tanpa irama orkes Samrah.
Selama
perkembangannya, samrah tak selalu mulus. Pada 1940-an, masa pendudukan Jepang
sempat jadi batu kerikil. Pemerintah kolonial jepang bersifat represif terhadap
pribumi, tak terkecualkarena nilai keagamaan di Betawi i Samrah.
Pada
1950-an, samrah muncul kembali dan memulai metamorfosisnya. Dimulai dengan
dominasi harmonium pada orkes samrah. Selain itu, permepuan mulai ambil peran
dalam samrah, karena nilai keagamaan di Betawi kala itu lebih beragam.
Tak
berhenti sampai disana, makin kuatnya pengaruh kebudayaan melayu di nusantara
membuat samrah lebih dikenal sebagai orkes melayu. Namun, penggunaan harmonium
mulai jarang, karena sulit didapat. Alternatifnya, digunakanlah arkodeon.
“Teman-teman samrah sekarang ini tidka memakai harmonium tapi arkodeon, yang
suaranya hamper mirip,” ungkap Rudi Haryanto, Kepala Bagian Pengembangan
Kebudayaan Betawi (LKB).
Makin
berkembangnya kondisi Jakarta juga terus membuat samrah bermetamorfosis. Orkes
samrah tak lagi menggunakan lagu melayu, melainkan bahasa betawi dengan beragam
dialek. Bentuk seperti ini membuat nama orkes samrahkembali lebih popular
ketimbang orkes melayu.
Walaupun
demikian, kini dalam pementasan samrah, group yang masih bertahanpunya pilihan
sendirisebagai lagu pengiring. Ali sabeni menilai, lagu-lagu pengiring music
samrah ialah lagu-lagu melayu tinggi. “itu kan lagu-lagunya melayu lama, orang
betawi lama. Jadi kalao orang tanah abang dialeknya kaya orang melayu,” ujar
Ali sabeni.
Pendapat
berbeda disampaikan Fifi Muntaco, anak Firman Muntaco salah satu seniman Samrah
yang terkenal pada masa jayanya. Music samrah memiliki lagu pengiringnya
tersendiri. Lagu-lagu itu memiliki dialek melayu betawi tersendiri, berbeda
dengan dialek melayu tinggi. baginya, musik samrah dengan dialek melayu tinggi lebih
mirip orkes melayu. “Kalau menurut ajaran orang tua saya. Itu bukan samrah. Itu
music melayu. Walau samrah pengaruhnya dari melayu, itu melayu. Samrah punya
music sendiri,” sanggah fifi.
Jika
dulu tempo musiknya cenderung lambat dan mendayu-dayu, maka tempo music music
dan lagu saat ini lebih cepat. Metamorfosis, disorong oleh perubahan zaman dan
ketiadaan pakem bagi samrah.
Group
Ali Sabeni yang biasa menyenyikan lagu melayu asli, saat penontonya dari
kalangan anak muda, lagu-lagu melayu modern yang bertempo lebih cepat turut
dipilihnya. Seperti: Asmara Dewi, bahtera Laju, bayangan, Bimbang ragu,
Lembaran Bunga, diambang Sore, Lagu rindu.
Selain
dari segi lagu dna tempo music, perubahan juga terjadi pada alat-alat musiknya.
Penyesuain juga terjadi karena onderdil alat music produk tua sulit didapat,
seperti harmonium yang diganti arkodeon. Kini, group samrah tidak ada yang
benar-benar akustik, salah satu alat ada yang menggunakan listik. “sekarang
tidak ada yang benar-benar akustik. Pasti ada listrik-listriknya,” ujar fifi.
Dari
segi pakaian pementasan pun turut beragam, nama pakaianya jung serong
(unjungnya serong). Terdiri dari tutup kepala yang disebut liskol, jas merah
tutup dengan pentolan satu warna dan sepotong kain yang dililitkan dibawah jas,
dilipat menyerong, ujungnya menyembul kebawah.
Sejak
awal, smarah memang tak punya pakem. Oleh karena itu, sangat memungkinkan
baginya untuk melakukan inovasi dan penyesuaian. Apalagi buat group samrah yang
masih bertahan guna bertahan hidup.
Tag :
Jurnalistik,
Jebakan Hutang
By : secawan kopi tubruk
Tolak hutang bersakit-sakit
dahulu, pilih hutang maka bersakit-sakit kemudian.
“Yah pak, jangan diambilin dagangan saya,” ucap seorang wanita berumur
sekitar 50 tahun.
“Loh, salah siapa lunas sampai tengat waktu. Saya kan sudah bilang konsekuensinya
dari awal kalau belum lunas tepat waktu,” ucap seorang laki-laki
bertubuh pendek berkemeja biru.
Tak ayal,
laki-laki bertubuh pendek berkemeja biru itu bersama seorang laki-laki bertubuh
besar berkaos merah berlalu dari wanita itu dengan membawa beberapa barang.
Kunyit, krupuk, bawang merah, dan kentang. Rupanya barang-barang itu langsung
diambil dari kios wanita tersebut. Wanita itu bernama darno. Darno merupakan
salah satu pedagang di pasar kecil di daerah Cipinang Muara. Kedua pria itu
adalah rentenir. Pria berkemeja biru adalah pemilik dana, sedangkan pria
berkaos merah adalah pekerja penagih hutang (debt collector).
Darno meminjam
uang sebesar lima juta untuk biaya rumah sakit anaknya yang terkena DBD. Tenggat
pelunasan bulan ferbuari lalu.
Darno memang biasa
meminjam kepada renternir. Itu untuk membantu keberlangsungan kiosnya. “saya
tidak punya banyak modal,” Darno beralasan. Sialnya, berhutang menjadi kebiasaan
Darno. “saya terjebak hutang”. Untung dagangan jadinya cuma buat bayar bunga
utang,” ujar Darno seperti binggung.
Tidak lama setelah
kejadian penarikan barang di kios Darno. Seorang renternir perempuan terlihat
mendatangi kios yang bersebelahan dengan Darno. Ciri-ciri perempuan itu mengenakan
topi dan membawa-bawa buku besar. “Sri....,” ujar perempuan yang akrab disapa uni.
“Ngga ada uni,
lagi sepi hari ini,” ujar seorang wanita bernama Sri.
“Masa ngga ada
mulu. Udah tiga hari lu belum bayar,” Uni menggomel.
“Janji dah uni,
besok dibayar sekalian jadi lima hari. Minggu kan ramai,” Sri terlihat memelas.
“Yaudah. Besok
bayar!” Uni berlalu begitu saja dari kios Sri dan bergeser kekios-kios lain.
Sri, wanita
berumur 38 tahun, juga tidak lepas dari hutang. kebutuhan rumah tangga yang
besar memaksa Sri harus berhutang. “Saya bingung bayar listrik nunggak dua
bulan (November dan Desember-red). Ditambah lagi waktu itu WC penuh. Saya ngga
punya simpanan, jadi ya terpaksa hutang,” sri mengeluh.
Tak banyak yang
dapat dilakukan orang berpenghasilan minim seperti sri selain berhutang demi
memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Namun, hutang bukan solusi terbaik. Bunga
hutang turut menggerus laba dari berjualan bumbu dapur yang memang sudah tipis.
Akibatnya jatah untuk membiayai kebutuhan sehari-hari juga turut berkurang. “Semenjak
ada kewajiban bayar hutang, uang saku anak saya dikurangi. Terus makan pake
ayam atau ikan cuma sebulan sekali jadinya. Diiritlah buat bayar utang,” Sri
bercerita.
Pengurangan
anggaran kebutuhan sehari-hari untuk membayar hutang juga dialami Daus,
pedagang kelapa. Bedanya, Daus bukan berhutang dalam bentuk uang, tapi dalam
bentuk kredit barang. Istrinya membeli beberapa barang elektronik dengan
mencicil. Televisi, rise cooker, dan
kipas angin mini, dibeli dengan harga yang beda 20% dari harga asli. Oleh
karena itu, daus mengurangi anggaran kebutuhan sehari-hari. “Coba istri saya
sabar. Tiga empat bulan juga udah terkumpul uang buat beli tunai. Kredit nyiksa
baget. Anak saya ngerengek bosen diempanin telor dan mie mulu,” ujar Daus sembari
menghisap rokok yang juga terkena impas pengiritan.
Darno, Sri, Daus
merupakan contoh kecil bahayanya jerat hutang. Imbas terbesarnya ialah
pengurangan anggaran kebutuhan sahari-hari, seperti makan. Padahal kecukupan
gizi didapat dari makanan. Kekurangan gizi terkait kesehatan, pertumbuhan,
kecerdasan, dan produktivitas.
Jebakan hutang juga
dihadapi pemerintah Indonesia, termasuk dampak pengurangan kebutuhan primer.
Alasan kenaikan harga BBM karena besaranya beban pengeluaran untuk subsidi
tidak tepat. Dibandingkan dengan harga subsidi BBM jika tidak dinaikan yang
mencapai Rp178,62
triliun, anggaran untuk
pembayaran utang luar negeri lebih besar lagi. Angaran
membayar angsuran pokok hutang dan bunga hutang dalam dari APBN 2011 tercatat
Rp267,509 triliyun. Pengurangan subsidi publik tidak hanya terjadi pada BBM,
tapi beberapa sektor lain. Seperti listrik, pendidikan, kesehatan.
Hutang luar negeri mulai tercatat di APBN ketika rezim orde
baru bercokol di Indonesia, dengan pendonor IMF dan World Bank. Alasannya untuk
pembangunan. Pembangunan memang berlangsung, tetapi penuh dengan kolusi dan
korupsi. Belum lagi pembangunan itu tidak sepenuhnya dibutuhkan oleh rakyat.
Seperti Daus yang berhutang hanya untuk kebutuhan sekunder.
Lembaga pendonor internasional sama mengerikan dengan
rentenir yang hanya mencari keuntungan. Melalui jebakan hutang, Indonesia harus
memprivatisasi beberapa BUMN. Seperti Darno yang kehilangan aset-aset sumber
pendapatannya. Akhirnya hutang menjadi alat menjerat kehidupan masyarakat dan
negara. Oleh karena itu, jangan pernah sekali-kali berhutang pada renternir.
Sekali terjebak, kita sulit keluar.
Tag :
Jurnalistik,
Sudah Miskin Bertamah Miskin
By : secawan kopi tubruk
Negara semakin
menyengsarakan rakyat dengan penghapusan subsidi publik demi kepentingan
korporasi asing.
Seorang wanita
lansia sedang duduk terkantuk-kantuk sembari menjaga barang jualannya. Wanita
lansia itu bernama Amini. Dia merupakan salah satu pedagang di pasar kecil di
daerah Cipinang Muara. Masyarakat sekitar biasa menyebutnya pasar deprok atau
pasar impres.
Amini
terkantuk-kantuk karena daganganya sepi pembeli. Tak hanya satu dua hari.
Namun, sudah seminggu ini dagangnya kurang laku dijual. “Saya ngga tahu ya,
kenapa semakin lama semakin sepi aja dagang. Apalagi saat ada kabar BBM mau
naik,” keluh Amini.
Sudah menjadi
rahasia umum jika harga BBM naik maka harga kebutuhan pokok naik. Dia
menghawatirkan dampak setelah harga kebutuhan pokok terdongkrak akan berakibat
pada sepinya pembeli. “Biasanya saja,
saya cuma dapat 20 ribu sehari. Uang segitu bikin bingung buat ngurus rumah,” ujar
wanita berumur 56 tahun itu.
Tidak jauh dari
kios Amini, terlihat seorang seorang laki-laki sedang melayani pembeli.
Laki-laki itu bernama Daryanto. Disampingnya berdiri istrinya sedang mengendong
anak keenam mereka.
Daryanto merasa
semakin sulit saja kehidupannya rumah tangganya jika kenaikan BBM. “Sebelum BBM
naik aja hidup kami udah kaya gini. Mana pernah kami makan ayam kalau bukan
lebaran,” ujarnya.
Namun, yang
dikeluhkan Daryanto bukan hanya dampaka kenaikan BBM. Dia juga memikirkan
pendidikan keenam anaknya nanti. “Anak saya yang pertama baru masuk SMA.
Biayanya lima juta. Itu aja udah dapat keringanan dan boleh dicicil. Jangan
mikir bisa kuliah dah,” ucapya sembari mengambil anaknya.
Untuk memenuhi
kebutuhan hidup rumah tangganya, Daryanto memang hanya mengandalkan dari penjualan
buah. Istrinya hanya ibu rumah tangga. Padahal keduanya pernah mengeyam bangku
kuliah. “Abis kena PHK krisis 98, saya ngga dapet kerja kantor. Susah nyari
lowongan, padahal saya punya ijazah kuliah,” laki-laki berumur 38 tahun itu
bercerita. Rupanya, kemajuan ekonomi pasca krisis 1998 yang digadang-gadang
pemerintah bukan untuk rakyat kecil seperti Daryanto.
Berharap pada BLT
sebagai kompensasi kenaikan BBM, bagi Daryanto hal itu hanya sia-sia belaka.
Seringnya berpindah rumah kontrakan mungkin menjadi salah satu penyebab dia
tidak mendapat BLT. “Teman sepengajian saya yang sama-sama sulit juga ngga
dapet, padahal dia jarang pindah-pindah kontrakkan.”
Daryanto
menceritakan bahwa temannya juga hidup susah. Teman sepengajiannya memiliki
empat orang anak dan pendapatan keluarganya hanya berasal dari komisi penjualan
batubara. Istrinya juga hanya menjadi ibu rumah tangga. “Tuh BLT ngga merata
kan. Lagi pula, kita kok jadi kaya orang ngemis,” tuturnya sambil tertawa.
Masih dalam tempat
yang sama. Di kios yang tak jauh dari Daryanto, terlihat ada keributan kecil.
Seorang laki-laki bertubuh pendek berkemeja biru bersama seorang laki-laki
bertubuh besar berkaos merah membawa beberapa barang dari sebuah kios. Kios itu
milik Darno.
Darno merupakan
wanita lansia yang umurnya tak jauh berbeda dari Amini, sekitar 50 tahun.
Rupanya, kedua pria itu adalah rentenir. Orang-orang pasar biasa menyebutnya bank
keliling. Pada rentenir itu, Darno meminjam uang.
Bulan Oktober 2011,
Darno meminjam uang sebesar lima juta rupiah dengan tempo pelunasan bulan
febuari lalu. Akibat sudah melewati batas waktu pembayaran belum lunas,
beberapa barang dagangan Darno disita pemilik dana. Seperti kunyit,
krupuk,bawang merah, kentang. Padahal, disitulah sumber pendapatan darno.
Amini yang melihat
kejadian itu turut berkomentar, “bank keliling yang itu memang kejam. Kalau
belum bayar dagangan kita langsung disita, ngga mikir kalau kita susah bayar
karena susah cari uang.”
Dalam pasar itu,
Darno memang dikenal banyak meminjam kebeberapa bank keliling untuk mengatasi
ketiadaan modal dagang. Namun, kali ini dia meminjam dalam jumlah besar untuk
membiayai rumah sakit anaknya yang dirawat karena terkena DBD.
Amini, Daryanto,
dan Darno merupakan mata rantai terakhir dalam jalur perdagangan komoditas
pangan, pedagang pengecer, sebelum sampai kekonsumen. Mereka hanya gambaran
sekelumit nasip rakyat kecil dalam satu tempat saja.
Mereka
termajinalkan karena sulitnya akses pendidikan murah, kesehatan murah, dan
naiknya harga BBM. Padahal semua itu
merupakan tanggung jawab negara untuk mensubdisi sektor publik. Dalihnya negara
tidak punya sumber pendapatan untuk pembiayaan sektor publik.
Tidak benar jika
negara tidak mempunyai sumber pendapatan untuk mensubsidi sektor publik. Indonesia
merupakan negara adengan sumber daya alam berlimpah (SDA). Sayngnya, keuntungan
dari hasil eksplorasi SDA tidak sepenuhnya masuk ke APBN. Keuntungan itu justru
lebih banyak diambil perusahaan penggarap SDA.
Sebagai contoh,
keuntungan bersih PT
Freeport McMoran Indonesia (Freeport) di Papua, setiap tahun
dapat mencapai 70 triliyun rupiah. Namun, total
kontribusi Freeport hingga Juni 2011 ke negara hanya sebesar 12,8 miliar. Jumlah tersebut
terdiri atas royalti USD 1,3 miliar, deviden USD 1,2 miliar, PPh badan USD 7,9
miliar, PPH karyawan dan pajak lainnya USD 2,4 miliar.
Artinya SDA
indonesia dikeruk hanya untuk kepentingan pihak swasta asing. Itu baru Freeport. Sudah banyak
sekali Perusahaan Trans Nasional Corporation (TNC) yang menancapkan
kepentingannya di Indonesia. Contohnya Chevron, Exxon Mobil, Total E&P
Indonesie, dll.
Sealin itu, faktor
menghilangnya anggaran subsidi publik karena APBN juga dibebani dengan angsuran
pembayaran hutang luar negeri. Anggran untuk pembayaran hutang luar negeri ini
yang sebetulnya menguras APBN. Angaran membayar angsuran pokok hutang dan
bungan hutang dalam dari APBN 2011 tercatat Rp267,509 triliyun. Jauh lebih
besar dari subsidi untuk BBM yang harga sebesar Rp178,62 triliun, perhitungan subsidi tanpa kenaikan harga BBM.
Sebagai kompensasi
kenaikan BBM satu April mendatang, pemerintah menelurkan progam BLT yang
berganti nama menjadi Bantuan
Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Pemerintah menganggarkan dana BLSM
sekitar Rp 25 triliun untuk 18 juta penduduk miskin. Padahal
penduduk miskin Indonesia mencapai 36,8 juta. Oleh karena itu, BLSM sangat
tidak efektif dan merata. Belum lagi BLSM hanya menciptakan mental rakyat menjadi
pengemis.
Tag :
Jurnalistik,
Dusun Nisan
By : secawan kopi tubruk
Apakah dusun
Popoan akan
menjadi nisan saat tak ada lagi yang mau menempatinya?
“Krek-krek”, terdengar denyit pompa besi dari
kamar mandi umum di sekitar pepohonan kelapa.
Dari kamar mandi umum itu, terlihat
seorang perempuan mengayuh pompa hijau berlumut hingga embernya terisi penuh
air. Perempuan itu meraih ember dan mengangkatnya dengan tangan kirinya.
Tangan kanannya mengengam erat tongkat yang berguna sebagai penopang
tubuhnya. Dari
sumur, dia berjalan
tertatih-tatih tanpa alas kaki menuju sebuah rumah bambu bercat putih. Wajahnya
berkeriput, rambut putih, tubuh membungkuk, itulah postur tubuh Darmin. Kebaya lusuh dan kain coklat menempel di
tubuhnya yang telah berusianya 90 tahun. Air tersebut hendak ia dipergunakan
untuk memancing pompa airnya agar dapat bekerja. Di usia tuanya dia masih harus
bersusah payah mengerjakan pekerjaannya
sendiri. Darmin tinggal seorang diri di rumahnya
yang berukuran 4x5 meter.
“Anak-anaknya semuanya pergi merantau ke kota besar. Hanya sesekali mereka datang,” ujar
Yanti, tetangga Darmin, sambil mengayunkan pompa.
Darmin merupakan salah satu dari beberapa penduduk Dusun
Popoan yang berlanjut usia. Dusun
Popoan terletak di
Kelurahan Triwarno, Kecamatan Banyu Urip, Purworejo. Dusun yang dikelilingi sawah ini menjadi saksi
para lansia berjuang hidup tanpa anak-anaknya. Masih ada beberapa penduduk yang
seusia dengan Darmin. Ia
memiliki sedikit penduduk, hampir semuanya lanjut usia.
Dari gapura pintu masuk desa, terdapat jalan setapak
sepanjang tujuh meter yang membelah dusun. Jalan yang dibangun oleh warga
secara gotong royong. Dengan menelusuri jalan setapak tersebut maka akan
terlihat beberapa kondisi rumah-rumah yang dikelilingi pepohonan. Beberapa rumah terlihat berpenghuni. Beberapa
rumah lainnya terbengkalai, kosong, setengahnya tahap pembongkaran, bahkan ada
yang telah berubah menjadi pepohonan.
Lima meter dari kamar
mandi umum, terlihat sebuah bangku panjang di bawah
pepohoan kelapa. Seorang laki-laki terbaring di atasnya. Celana
pendek di atas dengkul dan singleut putih melekat di tubuhnya.
Rambutnya hitam bercampur uban, kumis tipis melekat diwajah keriputnya. Namanya Nasroh.
Usianya memang tidak setua Darmin tapi nasipnya sama dengan Darmin.
Dia tinggal seorang diri di rumahnya. Kepala Nasroh mendongkak
ke langit yang semakin memanas.
Laki-laki ini sempat merantau ke Jakarta. Kawasan Pulo Gadung pernah
menjadi tempatnya bekerja, di pabrik peleburan besi. Dia mengontak
rumah di Cipinang Besar Selatan bersama
istrinya. Setelah istrinya meninggal dunia, dia kembali kampung.
“Awalnya saya nyari penghidupan yang lebih baik di Jakarta tapi nggak
betah. Emang si jadi petani disini kurang mencukupi kalau tidak ada pekerjaan
lain,” tambah laki-laki berambut putih ini.
Nasroh menambahkan, ketika bermukim di Jakarta sawahnya yang hanya
berukuran 0,3 hektare dikelola saudaranya. “sekarang si ngelola sendiri.
Tinggal buruhin aja orang dari kecamatan
tetangga. Mereka kan bukan daerah sawah,” ungkap laki-laki beranak dua ini.
“Waktu saya kecil keadaannya lebih ramai, sekarang dusun makin lama makin
sedikit karena anak-anak yang baru lulus langsung pergi ke Jakarta,” ujar Laki-laki
berumur 50 tahun ini.
Ini terjadi karena penduduk yang telah lulus Sekolah Menengah Atas pergi
merantau ke kota besar terutama Jakarta. Merantau ke kota-kota besar telah
menjadi kultur. Alasan utamanya karena pekerjaan sebagai
petani tidak menentu, kadang hasilnya memuaskan dan kadang tidak. Selain itu
bagi mereka Jakarta dan kota besar lainnya masih menyediakan lapangan pekerjaan
bagi lulusan baru. Terutama bagi sekolah-sekolah kejuruan yang bidangnya
seperti akuntan dan seketaris.
Matahari telah mencapai puncak. Tiba-tiba seorang perempuan berseragam
putih abu-abu melintasi Nasroh. “Dia satu-satunya remaja yang ada disini,”
tangannya menunjuk perempuan berseragam abu-abu itu.
Perempuan itu bernama Dian. Siswi kelas satu Sekolah Menengah Kejuruan ini,
termasuk salah satu yang berniat ke Jakarta setelah lulus. “Saya masuk SMK biar
cepet dapet kerja di Jakarta setelah lulus,” Dian
bercerita sambil membersihkan sepatu hitamnya.
Kakaknya, yang terpaut umur dua tahun darinya, setelah lulus SMK langsung
merantau ke Jakarta. Kebetulan, sang kakak langsung bekerja di
Yamaha Musik. Sang orang tua tidak berkeberatan jika kedua anaknya
merantau. “kata Ibu dari pada jadi petani yang hasilnya ngga tentu. Hasil panen
kemarin saja cuma dapat 70%,” ujar perempuan berkulit putih ini.
Budaya
merantau setelah lulus meninggalkan masalah sendiri bagi Dusun Popoan. Jika semua
generasi muda meninggalkan dusun popoan ini dan generasi tua sudah terlelap,
lalu siapa yang akan menghidupi dusun ini. Akhirnya dusun ini akan menjadi
nisan.
(Citra, Jakarta, 2012)
Tag :
Jurnalistik,

