Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Keberadaan Tuhan
By : secawan kopi tubruk
Ku bertanya pada
seorang pengembara
“dimana tuhan berada”
Sang pengembara
menjawab
“carilah sendiri
jawabannya”
Ku bertanya pada
seorang penyair
“dimana tuhan berada”
Sang penyair menjawab
“carilah pada setiap
sajak yang kau buat”
Ku bertanya pada
seorang pengemis
“dimana tuhan berada”
Sang pengemis
menjawab
“carilah pada hati
manusia yang memilki kebaikan”
Ku berntanya pada
anak kecil dipanti asuhan
“dimana tuhan berada”
Sang anak menjawab
“carilah pada wanita
yang melahirkanmu”
Aku bertanya pada
seorang alim
‘dimana tuhan berada”
Orang tersebut
menjawab
“tuhan ada di arsy”
Aku bertanya pada
Tuhan
“tuhan engkau berada
dimana”
“tanyalah pada dirimu
sendiri”
Aku bertanya pada
diriku sendiri
“dimana tuhan berada”
Yang ada hanya
jawaban
“tanyalah pada hatimu”
(jakarta, 2006)
Tag :
puisi,
Sunter Berduka
By : secawan kopi tubruk
Kini sunter berduka
Mengapa dia berduka?
Dia
merintih
Karena
tubuhnya tak hanya dipaksa menolong manusia
Tapi
dipaksa jadi pengumpul barang-barang hasil buangan
Dia menjerit
Pada
manusia yang tak lagi peduli
Atas dirinya yang tersakiti
Karena buangan limbah pabrik
Yang berdiri disisi tubuhnya
Atas izin yang diberikan
Denagn tanda diatas seumpuk uang seratus
ribuan
Padahal dia telah marah
Karena anak-anak pipit tak tak dapat belajar
terbang
Denagn bebas
didalam asap hitam, menari-nari diawan
seperti apakah dukanya?
Sepanjang sungai mengalir
Selebar langit terbentang
Sedalam samudra
Sebesar harapan terbitnya bintang dilangit
malam
Kapan dia berhenti berduka?
Mungkin ketika melihat nak-anak pipit mulai
terbang, berkembang
Menelusuri langit usaha
Tuk menggapai harapan dan cita-cita
Tentang indonesia bermasa depan
(Jakarta, 2004)
Tag :
puisi,
Puisi O'lala
By : secawan kopi tubruk
(untuk: Pak Sinar Hadi)
O’ la la
banyak sudah kata-kata terbuang tanpa makna
celoteh kanan celoteh kiri
di atas berteriak di bawah tak mau diam
O’ la la
buku-buku puisi hanya pengisi rak-rak toko buku
hanya dianggap tulisan penuh deret kata-kata
tak berdanya
dibanding buku-buku penghibur lara
walau kasat dimata
sesaat pula
atau buku-buku politik
yang menggambarkan perebutan kekuasaan semata
membuat rakyat tak berdaya
O’ la la
guruku
bermain kata
ditorehkannya
pada lembaran putih
dari tempat sampah
ditulisnya
sepatah dua patah
puisi jiwa
O’ la la
tangannya tak lelah menggoreskan
puisi
dengan
rangkaian kata-kata
yang tersirat
dalam raut wajah gelisah murid-muridnya
dalam garis kerut wajah para orang tua
penanda beban banyaran
dalam nestapa para pengajar
atas politik Pak Mentri Pendidikan
O’ la la
guruku terus menulis
sebagai ungkapan ketidak berdanyaan
walau dikecam sensasi semata
tak berharga
bagi manusia yang tak mengenal kata jiwa
tapi begiku bermakna
(Januari, 2009)
Tag :
puisi,