Popular Post

Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Perebutan Akses dan Kontrol

By : secawan kopi tubruk
Perebutan Akses dan Kontrol

Sumber Daya Alam sebagai basis ekonomi merupakan medan pertarungan dalam memperebutkan akses dan kontrol. Tiga kekuatan yang bertarung: masyarakat, negara, pasar.

Judul = Berebut Hutan Siberut: Orang Mentawai, Kekuasan, dan Politik Ekologi
Penulis = Darmanto dan Abidah B. Setyowati
Penerbit = Kompas Populer Gramedia (KPG)
Tebal = 458 halaman





Sumber Daya Alam (SDA) merupakan salah satu titik vital kehidupan masyarakat. Distribusi keuntungan dari SDA akan selalu diperebutkan oleh beragam aktor. Masyarakat lokal akan berusaha meneguhkan klaim kepemilikan. Namun, bagaimana masyarakat lokal dapat meneguhkan klaim kepemilikan SDA ketika mereka berhadapan dengan negara dan pasar? Tindakan apakah yang mereka lakukan untuk mendapatkan distribusi keuntungan dan untuk tujuan apa?
Buku duet Darmanto dan Abidah B. Setyowati Berebut Hutan Siberut: Orang Mentawai, Kekuasaan dan Politik Ekologi (KPG, 2012) menggambarkan sketsa realitas itu. Melalui pendekatan etnografi, buku ini melihat secara detail masyarakat adat Siberut sebagai kajian utama. Buku ini memijakkan analisisnya pada teori akses dari Jesse C. Ribot dan Nancy Lee Pelluso untuk melihat dinamika beragam aktor dalam konstelasi memperebutkan hutan Siberut.
Buku ini menarasikan rumitnya perebutan akses dan kontrol terhadap hutan yang mewujud dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Konsep akses dimaknai sebagai proses siapa mendapatkan keuntungan dari SDA, dengan cara bagaimana dan kapan. Akses ialah ‘bundelan dan jaringan’ yang berisikan makna, proses, dan relasi sosial yang membuat aktor-aktor ‘mendapatkan kemampuan untuk mendapatkan kontrol dan memerihara akses terhadap sumber daya alam’.
Hanya berdasarkan klaim berdasarkan hak atas property (property rights) tidaklah cukup untuk menjamin bahwa sumber daya alam akan jatuh ketangan masyarakat lokal. Kemampuan aktor mendapatkan SDA ditentukan oleh ragam faktor seperti akses terhadap teknologi, modal, pengetahuan, otoritas (politik maupun kultural), serta relasi sosial, yang hidup dalam bundel-bundel dan jaringan kekuasaan. Sehingga tidaklah aneh jika masyarakat Siberut mesti berjuang untuk mendapatkan keuntungan dari hutannya. Dengan teori akses, analisis bisa menghindarkan jebakan simplifikasi relasi pada oposisi biner: negara plus rezim kapitalis hutan versus masyarakat dengan kearifan lokalnya.
Buku ini ingin mengatakan bahwa hubungan antara manusia dan hutan selalu dilandasi oleh masalah produksi dan kekuasaan. Jauh sebelum kolonialisme maupun sebelum terikat dengan pasar yang lebih luas, masyarakat Siberut telah terlibat relasi yang saling menguasai dengan hutan. Dalam kepercayaan lokal, hubungan simbolik manusia dengan hutan berarti juga negosiasi dengan roh-roh yang menguasai hutan. Dalam corak produksi yang subsisten maupun nonsubsisten dan struktur sosial yang egaliter, negosiasi ini berlangsung terus-menerus sehingga bersifat mendua. Namun, disisi lain hutan juga memiliki sisi material yang dibutuhkan untuk keberlanjutan hidup.
Ketengangan antara sisi simbolik dan sisi material hutan ini secara berkesinambungan telah membentuk hutan Siberut menjadi lanskap yang tidak homogen dan tidak bebas dari intevensi manusia. Secara sosial, kekuasaan terhadap hutan berada ditangan setiap uma, sebuah keluarga besar (extended family) yang juga merupakan unit kepemilikan lahan dan sumber daya. Perebutan klaim-klaim kepemilikan hutan antar uma itulah yang sering menimbulkan konflik terus menerus. Dengan corak sosial yang egaliter dan otonom, hubungan kekuasaan antar uma terhadap hutan juga bersifat negosiatif.
Di Siberut, hubungan antara hutan dan penduduknya menjadi berbeda setelah keluarnya UU No.5 tahun 1967b tentang ketentuan pokok kehutanan (UU kehutanan). Setelah adanya UU ini, Orde Baru (Orba) membuka 503 izin konsesi hutan, salah satunya di Siberut. Dengan UU ini, Orba menekankan pembangunan ekonomi, terutama Sumber Daya Alam. Dalam rangka melegitimasi penguasaan atas Siberut, negara mengumumkan seluruh area di Siberut adalah kawasan hutan.
Kehadiran negara dan pasar kepelosok Siberut ini mengguncangkan tatanan kehidupan masyarakat yang sudah ada. Masyarakat Siberut merasa hak kepemilikannya telah dilanggar. Namun, tidak ada perlawanan terbuka. Kecemburuan dimanifestasikan dengan tindakan-tindakkan lokal. Meningkatnya kekuatan pasar dan menguatnya intervensi negara untuk mengatur perdagangan sumber daya hutan telah menggeser pandangan orang Siberut tentang nilai hutan. Hutan ternyata memliki nilai ekonomi tinggi.
Pada 1970-an muncul wacana konservasi di tingkat internasional dan nasional. Pulau Siberut menjadi salah satu tempat yang menjadi sasaran konservasi karena banyaknya laporan mengenai tingginya tingkat keanekaragaman hayati. Secara eksplisit, wacana konservasi mengakui dan menerima hak-hak adat penduduk Siberut dan melihatnya bersesuaian dengan agenda konservasi, sementara wacana eksploitasi pada kutup lain, melihat masyarakat sebagai ancaman. Penduduk Siberut tidak pernah ambil pusing dengan dualitas sikap negara karena sikap mereka sendiri ambivalen. Disatu sisi, orang-orang Siberut menerima wacana konservasi beserta progamnya, disatu sisi mereka tetap merambas hutan.
Pasca Orba, kenyakinan dan klaim orang Mentawai sebagai pemilik tanah dan hutan meningkat kuat dan membuat mereka menuntut klaim negara atas kepemilikan tanah. Kebijakan desentralisasi dari Jakarta telah membuat kepulauan Mentawai mendapatkan otonomi sebagai kabupaten yang telah lama mereka perjuangkan. Otonomi ini menguatkan identitas bersama dan meningkatkan kepercayaan diri orang Mentawai ketika berhadapan dengan komponen dari luar pulau.
Adanya kebijakan desentralisasi serta menguatnya jaringan LSM dan masyarakat sipil lainnya, serta pengakuan global terhadap masyarakat yang mengalami marginalisasi akibat proses modernisasi, membawa wacana indigenous people (masyarakat adat). Kebijakan desentralisasi memungkinkan mereka membuka akses penduduk lokal membangkitkan identitas sebagai masyarakat adat.
Dalam perkembangannya, masyarakat Siberut belajar untuk melihat posisinya sendiri dalam kebijakan negara dan juga wacana yang berkembang di tingkat regional maupun global. Orang Mentawai di Siberut perlahan menjadi lebih sadar tentang berbagai dampak pembangunan dan mulai merasa bahwa kebijakan negara kadang-kadang merugikan mereka. Kondisi ekonomi politik baru menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat Mentawai tentang dominasi sasareu (pendatang). Identitas kolektif sebagai sebuah kesatuan atas nama Mentawai muncul dari perasaan tertekan itu.
Sehingga, orang Siberut secara aktif mengartikulasi wacana hak-hak adat untuk memperbesar mereka membangun alinasi yang lebih luas dan meningkatkan posisi tawar ketika berhadapan dengan kekuasaan luar yang lebih kuat. Orang Siberut memiliki penafsiran terhadap makna adat yang berbeda dengan para konservasionis dan aktivis LSM. 

Cara memandang masyarakat
Pada kenyataannya, meskipun pengaturan negara, rezim kayu, dan program konservasi senantiasa mengganggu tatanan masyaraat Siberut, masyarakat Siberut tidak serta-merta melawannya secara kolektif, terorganisir, dan tunggal. Di tengah dominasi aktor-aktor luar itu, masyarakat Siberut melancarkan proses negosiasi yang mewujud dalam sikap melawan sekaligus akomodasi. Dalam negosiasi itu, masyarakat Siberut mengalami diaspora, sikap-sikap ambivalen, inkonsisten, bahkan bertentangan. Dulu teriak tolak pertambangan kayu, kini membelanya. Sekarang menolak konservasi, padahal dulu mendukung. Dulu aktif di LSM pembela hak masyarakat adat menolak penambangan kayu, sekarang jadi karyawan tambang.
Mereka menerima program konservasi dan menjual lahan hutannya kepada penambang kayu sekaligus tetap menerabas dan membuka ladang di sana. Mereka tidak sepenuhnya melawan negara karena mereka menggantungkan janji-janji pembangungan dengan segala fasilitasnya. Dari perusahaan kayu, mereka bisa mengantongi uang tunai dengan penjualan hutan. Dari LSM, identitas adat mereka terlegitimasi untuk tetap mengklaim kepemilikan hutan.
Aksi, strategi, dan taktik untuk meraih akses dan kontrol atas hutan terkesan acak, tidak patuh, oportunis, dan egois. Semua itu dinilai semata-mata demi mencapai kehidupan yang lebih baik (modern): makan nasi, punya kendaraan bermotor, televisi dan bersekolah tinggi.
Buku ini, melawan pemikiran bahwa masyarakat adat adalah sekelomok manusia ‘murni’, bijak dan arif, menjaga harmonisasi dengan alam, jauh dari peradaban modern, cenderung religius, dan memiliki kearifan lokal. Paradigma ini hanya ada dianggan-angan kita, karena kita memandangnya dari jarak jauh.
Kita selalu memandang suatu masyarakat hanya dari paradigma jarak jauh. Tidak ada perbedaan sikap antara kalangan aktivis dan pemerintah dalam melihat Siberut. Keduanya sering menyederhanakan masalah dalam membahas isu konservasi sebagai isu ekonomi politik, para aktivis cenderung berkesimpulan adanya masalah ‘budaya’ orang mentawai.

Hal ini merefleksikan bahwa bukannya orang luar yang harus menerima relitas masyarakat yang terus berubah-ubah akibat ketidakpastiaan kondisi hidup dan menerima kenyataan itu sebagai dasar atau pengetahuan baru. Akan tetapi, masyarakatlah yang harus sesuai dan dicocokan dengan konstruksi dari luar, baik atas nama konservasi maupun pembangunan.


Tag : ,

Kehendak yang Mesti di Perbaiki

By : secawan kopi tubruk
Kehendak yang Mesti di Perbaiki



Identitas Buku
Judul Buku: The Will to Improve
Penulis : Tania Murray Li
Penerbit : Marjin Kiri
Penerjemah : Hery Santoso dan Pujo Semedi
Tahun terbit: 2012
Tebal Buku : 536 halaman




Kehendak untuk memperbaiki mesti ditinjau ulang oleh para wali masyarakat.



            Masyarakat sebagai suatu entitas yang beragam, selalu dijadikan objek sasaran berbagai progam pembanguan dari berbagai tokoh yang beragam, dari tingkat lokal hingga internasional. Progam pembangunan ini selalu diproduksi dan tidak akan pernah usai,  sejak zaman kolonial  hingga kini. Tujuan berbagai progam pembangunan itu adalah untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. Namun, anehnya progam-progam pembangunan ini tidak mampu menuntaskan persoalan. Keberadaan progam-progam ini justru membawa masalah baru bagi masyarakat.
Disinilah buku The Will to Improve tulisan Tania Muray Li menjawab sengkarut persoalan yang lahir dari ‘kehendak untuk memperbaiki’ tersebut.  Kehendak untuk memperbaiki, dikonsepkan dan dilaksanakan oleh para aktor yang disebut Tania sebagai ‘wali masyarakat’. Para wali masyarakat adalah sebuah kedudukan yang dibangun berdasarkan klaim bahwa merekalah yang paling tahu tentang masyarakat karena mereka memiliki pengetahuan.
Para wali masyarakat ini melakukan intervensi dalam kehidupan masyarakat setempat melalui gelanggang kekuasaan yang dinamakan Foucault dengan  ‘rasionalitas khas kepengaturan’, yaitu upaya merumuskan “jalan paling tepat untuk menata kehidupan manusia” dalam rangka mencapai “serangkaian hasil akhir yang spesifik” dan diraih melalui “berbagai taktik multibentuk” (hal. 11). Kepengaturan bertindak secara persuasif. Kekuatan untuk mengarahkan orang bekerja dengan cara mengarahkan minat, membentuk kebiasaan, mendorong internalisasi nilai-nilai, merumuskan cita-cita dan kepercayaan bersama.

Dengan memanfaatkan fakta etnografis dan historis perubahan masyarakat di Poso, Tentena, Taman Nasional Lore Lindu di pegunungan Sulawesi Tengah sebagai fokus penelitian, Tania menjaskan secara kronologis perjalanan kehendak untuk memperbaiki. Disana, selama seabad terakhir berbagai progam beserta intervensi kepengaturan diciptakan.

Progam-progam pengaturan masyarakat, yang dilahirkan pemerintah kolonial hingga rezim neoliberal sering saling tumpang tindih. Hal ini terjadi kaena progam-progam tersebut memiliki persoalan mendasar dan mengidap keterbatasan. Inilah kritik yang ditegaskan Tania. Keterbatasan pertama, sedikitnya perhatian kepada rezim penguasa yang justru ditempatkan sebagai mitra pembangunan, seburuk apapun pemerintahannya. Keterbatasan kedua, nihilnya atensi terhadap relasi kekuasaan yang terselubung antara wali masyarakat dan masyarakat binaan.
Masyarakat bukanlah bejana kosong yang dapat diisi apa saja, sedangkan para wali masyarakat pun bukan kaum yang bebas nilai dari kepentingan kelompok. Hubungan tersebut mempertegas batas diantara keduanya yang bersebrangan dan tak terjembatani. Bisa dikatakan, pemberdayaan masih merupakan sebuah hubungan kekuasaan. Keterbatasan ketiga, pendekatan ini mengesampingkan faktor-faktor struktural yang menjadi sumber kesenjangan dari ranah teknis mereka. Batas inilah dasar yang membuat progam perbaikan dari dulu hingga kini, bisa masuk akal dan berakar kuat, tetapi selalu bermasalah. (halaman 496)

Menariknya dalam buku ini, Tania tidak memberi satu kesimpulan tunggal tentang yang harus kita lakukan. Melalui penjelasannya yang disusun dengan deskripsi yang apik dan kaya data, dia hanya mengajak kita berpikir hingga ke akar permasalahan, berpikir lebih luas, dan berpikir agar usaha perbaikan dapat dikerjakan lebih manusiawi. Oleh karena itu, sudah selayaknya buku ini kita baca.
  
Tag : ,

Makishima Shougo: Kepercayaan akan Nilai Manusia

By : secawan kopi tubruk


Kepercayaan akan Nilai Manusia

“Seseorang itu bernilai jika mereka bertindak atas kehendaknya sendiri,” Makishima Shougo.

Makishima Shougo adalah antogonis utama dalam animasi psycho-pass. Dia merupakan salah satu orang yang kecenderungan psikologisnya tidak bisa dibaca sibyl sistem atau yang disebut ‘perilaku kriminal tanpa gejala’. Sehingga, saat melakukan tindak kejahatan psycho-passnya dan koefisien kriminal Makishima tetap dianggap aman oleh dominator. 
Makishima pandai meraba kehendak orang, termasuk orang-orang yang bertujuan melakukan kejahatan. Dia membantu mereka untuk menjadi pembunuh sesungguhnya. Tapi kemudian, dia sendiri turut menghancurkan orang tersebut jika terlihat gagal, seperti kasus Mido Masitake dan Ouryo Rikaku. Laki-laki brilian yang terlihat selalu tenang ini teryata adalah orang yang berbahaya dan sadis. Dengan tenangnya, dia membunuh Yuki, sahabat Akane. Setiap tindak kejahatannya dilakukan dengan 'elegan'  dan terencana.
Namun,  setiap tindakannya memiliki nilai atau pesan yang tersirat. Dia tak sengan-sengan menguji jiwa manusia, meskipun harus bertindak sadis. Dia sangat mempercayai keagungan jiwa manusia. Dia ingin membuktikan bahwa bahkan di era teknologi yang disebut-sebut telah berhasil mengungkapkan rahasia dari jiwa manusia, tetap akan selalu ada bagian dari jiwa dan pikiran manusia yang tidak dapat diukur dan menjadi misteri.

“Dengan menganalisa bio-organisme yang dibaca pemindai gelombang, dominator mampu mengetahui cara berpikir seseorang. Sains akhirnya menemukan rahasia di balik jiwa manusia, dan hasilnya masyarakat ini berubah drastis. Akan tetapi, kehendak masyarakat bukan termasuk bagian dari penilaian tersebut. Aku heran criteria apa yang kau gunakan untuk memisahkan antara orang baik dan orang jahat. Aku ingin menjadi saksi dari keagungan jiwa manusia. Aku ingin tahu apakah itu memang layak untuk dikagumi. Tapi, saat hidup manusia bergantung pada Sybil, tanpa pernah memikirkan apa yang benar-benar mereka inginkan, apa mereka benar-benar berharga?”  (episode 11)

Dalam animasi ini terlihat Makishima merupakan sosok penjahat yang punya nilai dan idealisme tersendiri. Ia adalah aktor yang ingin menghancurkan sibyl sistem. Menurutnya, Sibyl System yang menurutnya telah merampas kebebasan. Dia adalah pelanggar politik politik dalam masyarakat yang dikelola sibyl sistem.

“Benarkah ini sebuah sistem? Atau sebuah penjara yang besar? Panopticon (penjara yang bentuknya bundar/bulat). Fasilitas yang bisa mengamati semua orang sekaligus. Sibly mungkin bentuk yang terburuk. Kau bisa mengendalikan tahanan hanya dengan sedikit penjaga.” (episode 22)

“Tak ada tempat bagi komonitas di dunia ini, dimana semua orang diawasi dan hidup dalam standar sistem. Semua orang hanya diam dalam penjara kecil mereka masing-masing. Dan sistem menjinakan mereka dengan memberikan mereka masing-masing ketentraman diri.” (episode 23)

Baginya, tatanan masyarakat yang dikelola sibyl sistem telah menghilangkan nilai sesungguhnya dari manusia dan kemanusiaanya. Sistem telah membuat manusia seperti binatang jinak. Tindakkannya mirip seorang anarkis, yang ingin merubah sistem yang tidak manusiawi mejadi lebih manusiawi. Namun, karena menyukai kehancuran dia telah menyimpang dari makna anarkisme sesungguhnya.
Di episode 17, dia merencanakan tindakan yang mengguncang dasar masyarakat. Dia memprovokasi masyarakat untuk menyadarkan betapa buruknya jika manusia kehilangan kemanusiaannya.  Bersama temannya, dia menciptakan sebuah helm agar si pemakainya tidak bisa dideteksi pemindai psycho-pas. Helm ini dibagikan kepada masyarakat.

“Alat ini berfungsi untuk meningkatkan kesadaran. Untuk menyedarkan masyarakat bahwa mereka seharusnya hidup layaknya manusia, bukan binatang ternak yang jinak. Masyarakat telah disesatkan sibly sistem hingga ke titik dimana mereka tidak mampu menyadari bahaya, meski didepan mereka sekalipun.”  (episode 14)

Setelah ditanggap oleh DIK, Makishima tidak dihukum tapi justru diajak bergabung menjadi anggota. Kepandaian, ketajaman analisa, dan perilakunya yang sulit ditebak  diperlukan untuk menyempurnakan sibyl sistem.  Namun, Makishima menolak dan melarikan diri. Dia lebih memilih menjadi pemain selama-lamanya, daripada menjadi ‘tuhan’ yang mengendalikan tatanan masyarakat. Dia mencintai permainan ‘kehidupan’ dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Baginya, bentuk sesungguhnya dari sibyl sistem merupakan sebuah ironi. Ini mirip seperti dokter di di balnibarbi dalam Perjalanan Guliver, karangan swift, bagian 3. Balnibarbi adalah tempat yang disinggahi guliver setelah pulau melayang laputa. Seorang dokter di balnibarbi menemukan cara untuk mendamaikan dua politisi yang berbeda saling berbeda pendapat. Caranya yaitu melakukan operasi memotong setengah bagian otak mereka yang kemudian dijahit menjadi satu. Ketika selesai, mereka mampu menghasilkan kesederhanaan serta keteraturan cara berpikir. Ini adalah kritik mereka yang sombong, yang berpikir bahwa mereka datang ke dunia hanya untuk melihat dan mengatur aliran geraknya.
Oleh karena itu, sampai akhir dia terus berusaha menghancurkan sibyl sistem. Walau pada akhirnya kembali digagalkan oleh Kougami. Makishima pun mati ditangan kougami.



Tag : ,

- Copyright © Secawan Kopi Tubruk - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -